Al-Kindi / Al Kindus



Biografi Singkat Al-Kindi

tokoh dan ilmuwan islam
Siapa sebenarnya Al-Kindi? Tidak lain adalah seorang ulama filsuf (filosof) muslim pertama keturunan arab yang memiliki nama lengkap: Abu Yusuf Yakub ibn Ishaq ibn al-Sahabbah ibn Imran ibn Muhammad ibn al-Asy`as ibn Qais ibn al-Kindi. Lebih populer di kampus-kampus dan seminar-seminar filsafat dengan sebutan al-Kindi, dinisbatkan kepada Kindah yaitu suatu kabilah terkemuka pra Islam yang merupakan cabang dari Bani Kahlan yang menetap di Yaman. Kindah sendiri sejak dulu menempati daerah selatan Jazirah Arab yang tergolong memiliki apresiasi kebudayaan yang cukup tinggi dan banyak dikagumi orang

Setelah menyelesaikan pendidikan dasarnya, al-Kindi pindah ke Basrah, Irak, untuk menambah pengetahuannya di berbagai bidang. Setelah itu, ia pindah lagi ke Baghdad untuk melanjutkan kuliah. Al-Kindi dikenal sebagai seorang filosof yang mahir kimia dan matematika. Dalam sejumlah karyanya, al-Kindi sering membahas masalah logika dan matematika. Ia juga sering mengulas buku karya Aristoteles

Tidak ada kepastian tentang tanggal kelahiran, kematian dan siapa-siapa saja ulama yang pernah menjadi guru Al-Kindi. kecuali kepastian bahwa ia dilahirkan di Kufah sekitar tahun 185 H atau 801 M dari pasangan keluarga kaya dan terhormat. Kakek buyutnya, al-Asy`as ibn Qais adalah salah seorang sahabat nabi yang gugur bersama Sa`ad ibn Abi Waqqas dalam perang jihad antara Kaum Muslimin dengan pasukan Persia di Irak. Sedangkan ayahnya Ishaq ib al-Shabbah adalah seorang gubernur di Kufah pada masa pemerintahan Al-Mahdi (775-785 M) dan Al-Rasyid (786-809 M). Ayahnya wafat ketika al-Kindi masih kanak-kanak, namun ia tetap mendapatkan kesempatan menuntut ilmu dengan baik di Bashroh dan Baghdad serta dapat bergaul dengan para pemikir Islam terkenal masa itu.

Dalam catatan biografi al-Kindi, al-Muntakhab, dikatakan bahwa ia adalah muslim pertama yang terkenal di bidang filsafat. Sejumlah karya, terjemahan, dan koreksi terhadap hasil karyanya sendiri adalah bentuk sumbangsihnya bagi perkembangan ilmu pengetahuan. Ia adalah tokoh yang memperkenalkan masalah metafisika, psikologi, etika, dan metode pendekatan secara logika serta ilmiah kepada masyarakat muslim Arab. Para ilmuwan Arab menganggapnya sebagai pendiri Filsafat Muslim Arab. Seorang filosof sempurna dan pemikir yang bijak. Karya-karyanya yang luar biasa membuat namanya berada pada posisi tertinggi di bidang ilmu pengetahuan.

Diperkirakan Al-Kindi hidup semasa dengan pemerintahan Daulah Abbasiyah saat dipimpin oleh Al-Amin, 809-813 M; Al-Ma`mun, 813-833 M; Al-Mu`tashim, 833-842 M; Al-Watsiq, 842-847 M; dan Al-Mutawakkil, 847-861 M. Pada saat itu, Dinasti Abbasiyah sedang mengalami masa-masa kejayaan dan perkembangan dalam dunia intelektual khususnya faham mu`tazilah.

Selain sebagai filsuf, al-Kindi juga dikenal sebagai penerjemah mahir. Menurut Ibn Juljul dalam bukunya Thabaqat al-Thibba (golongan dokter), menyebutkan bahwa dalam Islam ada 5 orang penerjemah mahir dan salah satunya adalah al-Kindi. 4 orang lainnya yaitu: Hunain ibn Ishaq, Ya`qub ibn Ishaq, Tasbit ibn Qurrah, dan Umar ibn Farkhan al_thabari.

Sehubungan dengan bidang penerjemahan, pada masa pemerintahan Khalifah Al-Ma`mun, Al-Kindi dikenal sangat berjasa dalam gerakan penerjemahan dan menjadi seorang pelopor yg memperkenalkan tulisan-tulisan Yunani, Suriah, dan India kepada dunia Islam melalui lembaga Bait al-Hikmah. Di lembaga ini pula, al-Kindi pernah menjadi dosen pengajar atas undangan Khalifah Al-Ma`mun sekaligus mengasuh Ahmad, putera Khalifah Al-Mu`tashim.

Berbeda seperti zaman sekarang, di mana seorang ulama hanya menguasai satu cabang keilmuan yg mahir, maka Al-Kindi sama seperti tradisi keilmuan para ahli pada masanya maupun masa-masa sebelum dan sesudahnya, yaitu menguasai lebih dari satu cabang keilmuan mahir khususnya ilmu-ilmu yg sedang berkembang saat itu (di Kufah dan Baghdad).

Di antara cabang keilmuan yg dikuasai al-Kindi dan diakui dunia hingga saat ini antara lain seperti: ilmu kedokteran, aljabar (matematika), ilmu falak, filsafat, semantik dan bahasa, geometri, astronomi (planet), farmakologi, ilmu jiwa, optika, politik, spiritualistik, metafisika, musik, bahkan ia juga dikenal sebagai penulis lagu. Banyak istilah-istilah yang dirubah dan dikembangkan oleh al-Kindi bahkan mendapat perhatian dan masih digunakan oleh kalangan ilmuan saat ini seperti: Jirm (tubuh) dirubah al-Kindi menjadi Jism, al-tamam (akhir) menjadi al-ghayah, thinah (materi) menjadi maddah, al-tawahhum (imaginasi) menjadi al-takhayyul, al-galibiyyah (nafsu birahi) menjadi al-ghadhabiyah, al-quniah (sifat dan sikap) menjadi al-malakah, dan istilah al-jami`ah (sillogisme) menjadi al-qiyas.

Dengan kecerdasan dan keahlian yang dimilikinya, al-Kindi juga menulis buku tentang kriptologi atau seni memecahkan kode. Dalam bukunya yang berjudul Risalah fi Istikhraj al-Mu’amma atau Manuscript for the Deciphering Cryptographic Messages itu, ia menjelaskan beberapa cara menguraikan kode rahasia. Ia juga mengklasifikasikan kode rahasia tersebut, menjelaskan ilmu fonetik Arab dan sintaksisnya. Lewat buku tersebut, al-Kindi memperkenalkan penggunaan metode statistika untuk memecahkan kode rahasia. Pengalamannya bekerja sebagai penerjemah sandi rahasia dan pesan tersembunyi yang terdapat dalam naskah asli Yunani dan Romawi, telah mempertajam naluri al-Kindi di bidang kriptoanalisa. Sehubungan dengan itu, ia pernah menjabarkan pengalamannya tersebut dalam sebuah makalah. Di kemudian hari, makalah tersebut dibawa ke Barat untuk diterjemahkan dan diterbitkan dalam bentuk buku yang berjudul Manuscript on Deciphering Cryptographic Messages.

Tidak hanya menguasai ilmu kriptografi, al-Kindi juga pakar di bidang matematika. Ia telah menghasilkan beberapa buku mengenai sistem penomoran, yang kemudian menjadi dasar aritmatika modern. Selain itu, al-Kindi juga memberikan kontribusi besar dalam bidang geometri bola, bidang yang sangat mendukungnya dalam studi astronomi. Bersama al-Khawarizmi dan Banu Musa bersaudara, ia diberi tugas menerjemahkan karya-karya filosof Yunani dalam bahasa Arab oleh Khalifah al-Makmun.

Al-Kindi sangat mengagumi pemikiran para filosof Yunani – Romawi. Ia sangat terilhami oleh dua filosof besar Yunani, yaitu Socrates dan Aristoteles. Pengaruh kedua tokoh ini bisa dilihat dalam beberapa karya al-Kindi.

Memperhatikan tahun lahirnya, dapat diketahui bahwa al-Kindi hidup pada masa keemasan kekuasaan Bani ‘Abbas. Pada masa kecilnya, Al-Kindi sempat merasakan masa pemerintahan Khalifah  Harun Al-Rasyid yang terkenal sangat memperhatikan dan mendorong perkembangan ilmu pengetahuan bagi kaum muslim. Pada masa pemerintahannya, Baghdad menjadi pusat perdagangan sekaligus pusat ilmu pengetahuan. A. Rasyid mendirikan semacam akademi atau lembaga, tempat  pertemuan para ilmuwan  yang disebut Bayt Al-Hikmah (balai ilmu pengetahuan). Al-Rasyid wafat pada tahun 193 H (809 M) ketika al-Kindi masih berumur 9 tahun. Sepeninggal Al-Rasyid, putranya, Al-Amin menggantikannya sebagai Khalifah, tetapi pada masanya tidak tercatat ada usaha-usaha untuk mengembangkan lebih lanjut ilmu pengetahuan yang telah dirintis dengan mengembangkan usaha susah payah ayahnya. Al-Amin wafat pada tahun 198 H (813 M), kemudian  digantikan  oleh saudaranya  Al-Makmun. Pada masa pemerintahan Al-Makmun (198-228 H) perkembangan ilmu pengetahuan amat pesat. Fungsi Bayt Al-Hikmah lebih ditingkatkan, sehingga pada masanya berhasil dipertemukan antara  ilmu-ilmu ke-Islaman dengan ilmu-ilmu asing, khususnya dari Yunani. Pada masa ini juga dilakukan penerjemahan besar-besaran kitab-kitab Yunani ke dalam bahasa Arab, sehingga perkembangan ilmu pengetahuan di kalangan kaum muslim sangat pesat karena memperoleh kesempatan untuk mengembangkan diri. Dan pada waktu inilah al-Kindi muncul sebagai salah seorang tokoh yang mendapat kepercayaan untuk menerjemahkan kitab-kitab Yunani ke dalam bahasa Arab, bahkan ia memberi komentar terhadap pikiran-pikiran pada filosof Yunani.

Al-Kindi yang dilahirkan di Kuffah pada masa kecilnya memperoleh pendidikan di Bashrah. Tentang siapa  guru-gurunya tidak dikenal, karena tidak terekam dalam sejarah hidupnya. Tetapi dapat dipastikan ia mempelajari ilmu-ilmu sesuai  dengan  kurikulum pada masanya. Ia mempelajari Al-Qur’an, membaca, menulis, dan berhitung. Setelah menyelesaikan pelajaran dasar-nya di Bashrah, ia melanjutkan ke Baghdad hingga tamat. Al-khindi mahir sekali dalam berbagai macam cabang ilmu yang ada pada waktu itu. Pendeknya  ilmu-ilmu yang berasar dari Yunani juga ia pelajari, dan sekurang-kurangnya salah satu bahasa yang menjadi bahasa ilmu pengetahuan kala itu ia kuasai dengan baik yaitu bahasa Suryani. Dari buku-buku Yunani yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Suryani inilah al-Kindi menerjemahkannya ke dalam bahasa Arab. Namun al-Kindi menanjak setelah hidup di istana pada masa pemerintahan Al-Mu’tashim yang menggantikan Al-Makmun pada tahun 218 H (833 M) karena pada waktu itu  al-Kindi dipercaya pihak istana menjadi guru pribadi pendidik puteranya, yaitu Ahmad bin Mu’tashim. Pada masa inilah al-Kindi berkesempatan menulis karya-karyanya, setelah pada masa Al-Makmun menerjemahkan kitab-kitab Yunani ke dalam bahasa Arab.

Membahas tentang mengapa al-Kindi tidak disebutkan ahli filsafat Islam yang pertama dan kehormatan ini diberikan kepada Farabi? Memang bermacam-macam fikiran orang tentang gelar itu.Ada yang memasukkan al-Kindi ke dalam golongan ahli filsafat dan menamakan dia ahli filsafat Islam yang pertama. Ada juga yang memberikan gelar ahli filsafat Islam yang pertama kepada Farabi dengan alasan, bahwa al-Kindi hanya merupakan penerjemah pertama dari kitab-kitab filsafat yunani ke dalam bahasa arab, karena al-Kindilah anak Arab yang pertama mengupas filsafat dalam bahasa Arab.     

Sesudah mengikuti apa yang disebutkan diatas, maka salah paham orang terhadap al-Kindi mudah dihindarkan. Jikalau kita mengakui bahwa al-Kindi bukan hanya sekedar penerjemah kitab-kitab filsafat Yunani, tetapi juga mengupas isi filsafat Aristoteles dan Plato, dan menyalurkan kepada suatu filsafat yang dapat diterima oleh islam. Maka dengan tidak ragu-ragu al-kindi dapat dinamakan ahli filsafat Islam yang pertama, tetapi ia kalah dalam susunan bahasa yang indah, seperti yang pernah dikerjakan oleh Farabi, yang lebih jelas mengemukakan analisa dan pendirian-pendirian filsafat Islam. Sehingga filsafat yang dikemukakan oleh Farabi itu merupakan corak filsafat Islam yang sudah nyata bentuknya, meskipun rintisan kearah itu telah dibuka sebelumnya oleh al-Kindi. Lalu Farabi terkenal sebagai ahli filsafat Islam yang pertama, yang buku dan bahasanya yang indah, sesuai dengan kemajuan kesusasteraan Arab dikala itu, dibaca orang dalam kalangan luas dan mendapat perhatian penuh dari umum, terutama dari penulis-penulis sejarah.

tokoh dan ilmuwan islamLain dari pada itu al-Kindi banyak musuhnya, tidak saja karena ia seorang yang  terpandai, tetapi juga karena ia seorang yang terdekat dengan istana dan mempunyai pengaruh terhadap aliran-aliran tertentu. Tidak pula kita lupakan suatu hal yang terpenting, yang merupakan mega kemasyhuran al-Kindi, bahwa kitab-kitabnya banyak yang hilang, dan lama kemudian dari pada matinya baru di ketemukan orang kembali serta dibicarakan, lama sesudah orang sepakat memberikan gelar kehormatan kepada Farabi. Tetapi ia tetap merupakan perintis filsafat Islam yang pertama. Dr. Madkur menyebut dia, “mu’assis awwal lil madrasah falsafiyah islamiyah“. (peletak baut pertama bagi aliran filsafat Islam).

Mustafa Abdurraziq juga menjunjung al-Kindi sebagai ahli filsafat Islam yang pertama karena tiga hal:
1.  Al-Kindi  mula-mula membagi falsafat dalam 3 ilmu, yaitu ilmu ketuhanan, ilmu pasti, dan ilmu alam, ketiga-tiganya adalah merupakan dasar filsafat Islam.
2. Bahwa al-Kindilah yang mula-mula membuka jalan ke arah filsafat Islam dengan mempertemukan dua pendapat yang berbeda antara Plato dan Aristoteles, sehingga dengan demikian itu bertemu pulalah agama dengan filsafat.
3.   Bahwa al-Kindi adalah seorang Arab Islam yang mula-mula merintis membuka ilmu filsafat ini, sehingga ilmu itu tersiar diantara orang Arab dan dalam kalangan Islam.[11]
Ibnu Usaibi’ah mengatakan tentang al-Kindi: “tidak ada dalam dunia Islam orang yang masyhur tentang ilmu filsafat pada masanya selain dari al-Kindi, sehingga ia berhak dinamakan filosof Islam”. Ibnu Nutabah juga berkata dengan jelas: “al-Kindi ialah Ya’kub bin Sibah, yang dalam masa hidupnya dinamakan filosof Islam”.

Dengan demikian hampir semua orang menamakan al-Kindi filosof Islam pada waktu hidupnya, sampai lahirlah Farabi menutupi kemasyhurannya. Farabi masyhur karena karangan-karangan al-Kindi, Farabi digelarkan “guru yang kedua” karena ia mengupas filsafat yang kedua lebih mendalam dan lebih tegas, yang oleh al-Kindi baru hanya disinggung-singgung dan yang oleh Aristoteles baru digugat-gugat, sehingga dengan demikian Farabi beroleh gelar, disamping Aristoteles sebagai guru pertama, guru kedua dalam ilmu filsafat. Memang sudah menjadi kebiasaan dalam sejarah, yang memulai menderita susah payah, yang menyudahi biasanya beroleh kemenangan. Tetapi bagaimanapun juga, jasa penanam bibit dan perintis jalan tidak mudah dilupakan orang.

Karya-Karya al-Kindi

Al-Kindi dikenal juga sebagai penulis buku yang aktif. Diperkirkan karya buku yang telah ditulisnya tidak kurang dari 270 buah yang membahas berbagai bidang keilmuan dan persoalan umat.
Berikut ini beberapa karya al-Kindi yang terkenal:

1.      Kitab al-Kindi ila al-Mu’tashim Billah fi al-Falsafah al-Ula (tentang filsafat pertama);
2.      Kitab al-Falsafah al-Dakhilat wa al-Masa’il al-Manthiqiyyah wa al-Muqtashah wa ma Fawqa al-Thabi’iyyah (tentang filsafat yang diperkenalkan dan masalah-masalah logika dan muskil serta metafisika);
3.      Kitab fi Annahu la Tanalu al-Falsafah illa bi ‘Ilmi al-Riyadliyyah (tentang filsafat tidak dapat dicapai kecuali dengan ilmu pengetahuan dan matematika);
4.      Kitab fi Qashd Aristhathalis fi al-Maqulat (tentang maksud Aristoteles dalam kategori-kategorinya);
5.      Kitab fi Ma’iyyah al-‘Ilm wa Aqsamihi (tentang ilmu pengetahuan dan klasifikasinya);
6.      Risalah fi Hudud al-Asyya’ wa Rusumiha (tentang definisi benda-benda dan uraiannya);
7.      Risalah fi Annahu Jawahir la Ajsam (tentang substansi-substansi tanpa badan);
8.      Kitab fi Ibarah al-Jawami’ al-Fikriyah (tentang ungkapan-ungkapan mengenai ide-ide komprehensif);
9.      Risalah al-Hikmiyah fi Asrar al_ruhaniyah ( sebuah tulisan filosofis tentang rahasia spiritual);
10.  Risalah fi al-Ibanah ‘an al-‘Illat al-Fa’ilat al-Qaribah li al-Kawn wa al-Fasad (tentang penjelasan mengenai sebab dekat yang aktif terhadap alam kerusakan).

Pemikiran tentang Metafisika

Setiap pemikiran selalu mencerminkan zamannya. Ia merupakan hasil dari interaksinya dengan sejarah yang melingkupinya. Diskusi tentang metafisika ini sudah dimulai dari masa Yunani Kuno yang mempersoalkan tentang being atau “yang ada”. Pada abad VII M wilayah Islam telah mencakup Mesir, Syiria, Mesopotamia (Irak), dan Persia. Peristiwa ini menandakan dimulainya kontak antara Islam dan filsafat Yunani, karena filsafat Yunani telah masuk dan berkembang di daerah ini. Kegiatan penterjemahan buku-buku Yunani ke dalam bahasa Arab itulah yang mengantarkan intelektual Muslim untuk angkat bicara mengenai filsafat, khususnya filsafat metafisika, al-Kindi termasuk salah satu pelopor utamanya.

Metafisika (Bahasa Yunani: μετά (meta) = "setelah atau di balik", φύσικα (phúsika) = "hal-hal di alam") adalah cabang filsafat yang mempelajari penjelasan asal atau hakekat objek (fisik) di dunia. Menurut Aristoteles, metafisika adalah disiplin ilmu yang mempelajari tentang ‘keadalahan’ sesuatu (being qua being) dan ciri-ciri sejati (properties inherent) atas segala sesuatu. Metafisika membahas sesuatu yang sangat umum dan mendasar. Jika diterapkan dalam kajian manusia, maka yang dibahas adalah apa itu manusia, dari mana asalnya, siapa yang menciptakan, untuk apa manusia diciptakan dan apa saja yang membuatnya bahagia dan sedih. Begitu juga jika diterapkan dalam kajian alam, metafisika akan mempertanyakan apa itu alam, siapa yang menciptakan alam, untuk apa alam diciptakan dan. Jadi pertanyaan-pertanyaan yang sangat mendasar inilah yang dikaji oleh metafisika.
Memaknai metafisika Al-Kindi lebih sepesifik dari Aristoteles, yakni menyebutnya dengan nama filsafat awal (al-falsafah al-ula). Metafisika baginya adalah ilmu yang membahas sesuatu yang tidak bergerak, atau ilmu yang membahas sesuatu yang bersifat ilahi (divine things). Menurutnya ia adalah ilmu filsafat yang paling mulia, karena ia mempelajari ilmu tentang kebenaran awal yang menjadi sebab dari segala kebenaran. Al-Kindi juga menyebutnya sebagai ‘ilmu sebab pertama’ (al-’illat al-ula), alasannya karena semua cabang ilmu filsafat tercakup dalam disiplin ilmu ini. Karena dia adalah awal dari kemuliaan, awal dari segala jenis, awal dari segala tingkatan dan awal dari zaman karena dia adalah sebab adanya zaman.

Permasalah yang diangkat dalam pemikiran metafisika al-Kindi tidak sama persis dengan apa yang dikaji oleh metafisikanya Aristoteles dan para filosuf muslim lainnya. Isu yang dibicarakan oleh al-Kindi terbatas pada pengklasifikasian wujud (being), alam semesta, dan Tuhan. Metafisika al-Kindi, tidak hanya menyajikan sesuatu hal yang baru, tapi ia senantiasa menempatkan dirinya sebagai lawan dari metafisikanya filosuf Yunani dengan memasukan nilai-nilai Islam ke dalamnya.

1. Wujud (being)
       Al-Kindi membedakan sesuatu yang ada (wujud/being) menjadi dua, sesuatu yang bersifat indrawi (al-mahsus) dan yang bersifat akali (al-ma’qul). Ilmu yang mempelajari sesuatu yang bersifat indrawi (al-mahsus) disebut dengan ilmu fisika (thabi’i), sedangkan ilmu yang mempelajari sesuatu yang bersifat akali (al-ma’qul) disebut dengan ilmu metafisika (al-falsafah al-‘ula). Dan tiap-tiap benda memiliki dua hakikat. Hakikat sebagai juz’i yang disebut aniah, dan hakikat sebagai kulli yang disebut mahiah (hakikat yang bersifat universal dalam bentuk genus dan species). Juz’i yang dinisbatkan kepada individu yang tampak itu menjadi bahan kajiannya ilmu fisika (thabi’i), sedangkan metafisika mengkaji segala sesuati yang bersifat kulli, mengkaji atas mahiah sesuatu. Menurutnya, yang terpenting bukanlah juz’iah yang tak terhingga banyaknya itu, tetapi hakikat yang terdapat dalam juz’iah itu, yaitu kulliah (universal).
2. Alam Semesta
Salah satu problem terpenting di kalangan filosuf muslim adalah pembicaraan mengenai penciptaan alam semesta. Dikatakan sangat penting, karena problem ini sangat erat kaitannya dengan konsep tauhid (the unity of God). Telah dibahas sebelumnya, bahwa al-Kindi termasuk seorang filosuf muslim yang tengah berusaha memadukan antara filsafat Yunani dengan Islam. Karena itu, dalam permasalah yang krusial ini, ia lebih memilih berpendapat bahwa alam ini diciptakan sesuai dengan apa yang diinformasikan oleh al-Quran, oleh sebab alam ini diciptakan maka alam ini tidaklah kadim. Menurut al-Kindi, alam ini disebabkan oleh sebab yang jauh (‘illat ba’idat ilahy), yakni Allah. Ia menciptakan alam dari tiada menjadi ada (creation ex nihilo).


Pendapat al-Kindi di atas berbeda sama sekali dengan para pendahulunya, Plato (490 SM), Aristoteles (384-322 SM) dan Plotinus (205-270 SM) yang tidak pernah berpendapat bahwa alam ini diciptakan dari tiada menjadi ada. Menurut mereka, alam ini diciptakan dari benda yang sudah ada sebelumnya dengan cara emanasi. Sebelum Aristoteles, Pricles atau Proclus (411-405 SM) berpendapat bahwa alam ini bersifat kekal dan juga gerak alam ini kekal. Ia mengemukakan delapan alasan untuk membuktikan bahwa alam ini kekal. Pendapat mereka ini dibantah oleh al-Kindi dengan metodologi yang belum pernah ada sebelumnya. Menurut George N. Atiyeh, al-Kindi menggunakan ilmu matematika (mathematical) dan logika (logical reasoning). Usaha al-Kindi nampaknya tidak didukung oleh beberapa filosuf muslim, seperti Ibnu Sina dan al-Farabi. Untuk problem penciptaan alam semesta, mereka lebih memilih pendapatnya para filosuf Yunani dengan sedikit perubahan dalam konsep emanasi daripada al-Kindi.


Tentang baharunya alam, al-Kindi mengemukakan tiga argument, yakni gerak (motion), zaman (time) dan benda (body). Benda untuk menjadi ada harus ada gerak. Masa gerak menunjukkan adanya zaman. Adanya gerak tentu mengharuskan adanya benda. Mustahil kiranya ada gerak tanpa adanya benda. Ketiganya sejalan dan akan berakhir.


Lebih lanjut al-Kindi mengemukakan beberapa argument untuk menetapkan baharunya alam.
a. Semua benda yang homogen, yang tidak padanya lebih besar ketimbang yang lain, adalah sama besar.
b. Jarak antara ujung-ujung dari benda-benda yang sama besar, juga sama besarnya dalam aktualitas dan potensialitas.
c. Benda-benda yang mempunyai batas tidak bisa tidak mempunyai batas.
d. Jika salah satu dari dua benda yang sama besarnya dan homogen ditambah dengan homogen lainnya, maka keduanya menjadi tidak sama besar.
e. Jika sebuah benda dikurangi, maka besar sisanya lebih kecil daripada benda semula.
f. Jika satu bagian diambil dari sebuah benda, lalu dipulihkan kembali kepadanya, maka hasilnya adalah benda yang sama seperti semula.
g. Tiada dari dua benda homogen yang besarnya tidak mempunyai batas bisa lebih kecil ketimbang yang lain.
h. Jika benda-benda homogen yang semuanya mempunyai batas ditambahkan bersama, maka jumlahnya akan terbatas.


Atas dasar itulah, al-Kindi berkesimpulan bahwa alam ini pastilah terbatas, dan ia menolak secara tegas pandangan Aristoteles yang mengatakan bahwa alam semesta tidak terbatas atau kadim. Pasalnya seandainya alam ini tidak terbatas, lalu diambil sebagian, maka yang tinggal, apakah terbatas, ataukah tidak terbatas? Jika yang tinggal terbatas, bila ditambahkan kembali kepada bagian yang dipisahkan, maka hasilnya tentu terbatas pula dan inilah yang benar, tetapi bertentangan dengan pengandaian semula bahwa alam ini sebelum dibagi atau diambil sebagiannya, tidak terbatas.

Sekiranya yang tinggal setelah diambil itu tidak terbatas, sedangkan keseluruhannya sebelum diambil juga tidak terbatas, maka berarti benda itu sama besar dengan bagiannya, dan ini kontradiktif dan tidak dapat diterima.
3. Tuhan
Setelah membuktikan bahwa alam semesta ini diciptakan pada suatu masa (muhdats), kemudian al-Kindi hendak mendemonstrasikan bahwa alam ini mempunyai Dzat yang menciptakan (muhdits). Untuk membuktikan adanya Allah Sang Pencipta, al-Kindi mengajukan beberapa argument. Pertama, bukti adanya Allah adalah diciptakannya alam semesta pada suatu masa. Apapun yang diciptakan pada suatu masa, maka ia mempunyai pencipta. Setiap yang memiliki permulaan waktu maka ia akan berkesudahan.
 Argumen kedua adalah keaneragaman alam. Sebelum berargumen, al-Kindi menjelaskan makna dari istilah ‘satu’ (one/wahid). Kata ‘satu’ adalah istilah yang merujuk pada ‘satu’ (single) dari kumpulan beberapa objek dan merujuk pada ‘Esa’ (One), Sang Pencipta. Untuk makna pertama, ia tersusun dari beberapa objek, dan dapat dibagi (divisible) kedalam beberapa bagian. Sedangkan untuk makna kedua (One-ness, the Creator), Ia adalah satu yang tidak dapat dibagi-bagi (indivisible). Selain ‘Yang Esa’ (One-ness) berarti berragam (multiple). Ketiadaan Yang Esa juga berdampak pada ketiadaan yang beragam. Yang Esa (One-ness) adalah penyebab adanya yang lain. Dia lah Allah Sang Pencipta.

Argument ketiga adalah bahwa segala sesuatu mustahil dapat menjadi penyebab atas dirinya sendiri. Karena jika ia sendiri yang menyebabkan atas dirinya maka akan terjadi tasalsul (rangkaian) yang tidak akan habis-habisnya. Sementara itu, sesuatu yang tidak berakhir tidak mungkin terjadi. Karena itulah, penyebabnya harus dari luar sesuatu itu, yakni Dzat Yang Maha Baik dan Maha Mulia dan lebih dahulu adanya dari pada sesuatu itu. Ia adalah Allah swt, Dzat yang Maha Pencipta.

Tuhan dalam filsafat al-Kindi tidak mempunyai hakikat dalam arti ‘aniah atau mahiah. Bukan ‘aniah karena Tuhan tidak termasuk dalam benda-benda yang ada dalam alam, bahkan ia adalah Pencipta alam. Ia tidak tersusun dari materi (al-hayula) dan bentuk (al-shurat). Tuhan juga tidak mempunyai hakikat dalam bentuk mahiah, karena Tuhan tidak termasuk genus atau species. Tuhan hanya satu, dan tidak ada yang serupa dengan Tuhan. Tuhan adalah unik. Ia adalah Yang Benar Pertama (al-Haqq al-Awwal) dan Yang Benar Tunggal (al-Haqq al-Wahid). Ia semata-mata satu. Selain dari-Nya mengandung arti banyak.

Sebagaimana kebanyakan umat Islam, Tuhan bagi al-Kindi adalah pencipta (mubdi’). Tuhanlah yang menciptakan alam beserta isinya. Berbeda dengan Aristoteles, menurutnya Tuhan tak memiliki ciri-ciri seperi Tuhan Penyelenggara atau Pencipta, sebab akan turunlah derajat kesempurnaan-Nya jika Ia memikirkan segala sesuatu selain yang sempurna. Tuhan, menurutnya adalah penyebab gerak, akan tetapi dirinya sendiri tidak harus bergerak. Tuhan melahirkan sesuatu yang bergerak (alam semesta) dengan jalan dicintai. Jadi bagi al-Kindi, Tuhan bukanlah Pencipta alam semesta ini dalam pengertian dari tiada menjadi ada. Tuhan dalam istilah Aristoteles adalah The Prime Mover bukan The Creator.


Kitab Pemecah Kode
tokoh dan ilmuwan islamSebagai ilmuwan serba bisa, Al-Kindi tak cuma melahirkan pemikiran di bidang filsafat saja. Salah satu karyanya yang termasuk fenomenal adalah Risalah Fi Istikhraj al-Mu’amma. Kitab itu mengurai dan membahas kriptologi atau seni memecahkan kode. Dalam kitabnya itu, Al-Kindi memaparkan bagaimana kode-kode rahasia diurai.

Teknik-teknik penguraian kode atau sandi-sandi yang sulit dipecahkan dikupas tuntas dalam kitab itu. Selain itu, ia juga mengklasifikasikan sandi-sandi rahasia serta menjelaskan ilmu fonetik Arab dan sintaksisnya. Yang paling penting lagi, dalam buku tersebut, A-Kindi mengenalkan penggunaan beberapa teknik statistika untuk memecahkan kode-kode rahasia.

Kriptografi dikuasainya, lantaran dia pakar di bidang matematika. Di area ilmu ini, ia menulis empat buku mengenai sistem penomoran dan menjadi dasar bagi aritmatika modern. Al-Kindi juga berkontribusi besar dalam bidang geometri bola, bidang yang sangat mendukungnya dalam studi astronomi

Bekerja di bidang sandi-sandi rahasia dan pesan-pesan tersembunyi dalam naskah-naskah asli Yunani dan Romawi mempertajam nalurinya dalam bidang kriptoanalisa. Ia menjabarkannya dalam sebuah makalah, yang setelah dibawa ke Barat beberapa abad sesudahnya diterjemahkan sebagai Manuscript on Deciphering Cryptographic Messages. ”Salah satu cara untuk memecahkan kode rahasia, jika kita tahu bahasannya adalah dengan menemukan satu naskah asli yang berbeda dari bahasa yang sama, lalu kita hitung kejadian-kejadian pada tiap naskah Pilah menjadi naskah kejadian satu, kejadian dua, dan seterusnya,” kata Al-Kindi.

Setelah itu, lanjut Al-Kindi, baru kemudian dilihat kepada teks rahasia yang ingin dipecahkan. Setelah itu dilanjutkan dengan melakukan klasifikasi simbol-simbolnya. ”Di situ kita akan menemukan simbol yang paling sering muncul, lalu ubahlah dengan catatan kejadian satu, dua, dan seterusnya itu, sampai seluruh simbol itu terbaca.”


Teknik itu, kemudian dikenal sebagai analisa frekuensi dalam kriptografi, yaitu cara paling sederhana untuk menghitung persentase bahasa khusus dalam naskah asli, persentase huruf dalam kode rahasia, dan menggantikan simbol dengan huruf.

Filsafat Al-Kindi

Bagi Al-Kindi, filsafat adalah ilmu pengetahuan yang mulia. Filsafatnya tentang keesaan Tuhan selain didasarkan pada wahyu juga proposisi filosofis. Menurut dia, Tuhan tak mempunyai hakikat, baik hakikat secara juz’iyah atau aniyah (sebagian) maupun hakikat kulliyyah atau mahiyah (keseluruhan).

Dalam pandangan filsafat Al-Kindi, Tuhan tidak merupakan genus atau species. Tuhan adalah Pencipta. Tuhan adalah yang Benar Pertama (al-Haqq al-Awwal) dan Yang Benar Tunggal. AL-Kindi juga menolak pendapat yang menganggap sifat-sifat Tuhan itu berdiri sendiri. Tuhan haruslah merupakan keesaan mutlak. Bukan keesaan metaforis yang hanya berlaku pada obyek-obyek yang dapat ditangkap indera.

Menurut Al-Kindi, Tuhan tidak memiliki sifat-sifat dan atribut-atribut lain yang terpisah dengan-Nya, tetapi sifat-sifat dan atribut-atribut tersebut haruslah tak terpisahkan dengan Zat-Nya. Jiwa atau roh adalah salah satu pembahasan Al-Kindi. Ia juga merupakan filosof Muslim pertama yang membahas hakikat roh secara terperinci.

Al-Kindi membagi roh atau jiwa ke dalam tiga daya, yakni daya nafsu, daya pemarah, dan daya berpikir. Menurutnya, daya yang paling penting adalah daya berpikir, karena bisa mengangkat eksistensi manusia ke derajat yang lebih tinggi.

Al-Kindi juga membagi akal mejadi tiga, yakni akal yang bersifat potensial, akal yang telah keluar dari sifat potensial menjadi aktual, dan akal yang telah mencapai tingkat kedua dari aktualitas.
Akal yang bersifat potensial, papar Al-Kindi, tak bisa mempunyai sifat aktual, jika tak ada kekuatan yang menggerakkannya dari luar. Oleh karena itu, menurut Al-Kindi, masih ada satu macam akal lagi, yakni akal yang selamanya dalam aktualitas.


Penutup
Dari pemaparan singkat di atas, terlihat bahwa al-Kindi, filosuf muslim paripatetik pertama, selalu berupaya untuk menselaraskan filsafat Yunani dengan ajaran Islam dengan cara mengadopsi mana yang sesuai dan membuang atau merubah mana yang tidak sesuai dengan akidah Islam. Usaha al-Kindi itu adalah proses islamisasi filsafat Yunani. Jadi tidaklah benar jika dikatakan bahwa seluruh kerangka kajian filsafat Islam seluruhnya berasal dari Yunani, sebagaimana yang dituduhkan oleh orientalis.

 Al-Kindi tak sekedar menerjemahkan karya-karya filsafat Yunani, namun dia juga menyimpulkan karya-karya filsafat Helenisme. Salah satu kontribusinya yang besar adalah menyelaraskan filsafat dan agama.

”Al-Kindi adalah salah satu dari 12 pemikir terbesar di abad pertengahan,” cetus sarjana Italia era Renaissance, Geralomo Cardano (1501-1575). Di mata sejarawan Ibnu Al-Nadim, Al-Kindi merupakan manusia terbaik pada zamannya. Ia menguasai beragam ilmu pengetahuan. Dunia pun mendapuknya sebagai filosof Arab yang paling tangguh.

Ilmuwan kelahiran Kufah, 185 H/801 M itu bernama lengkap Abu Yusuf Ya’qub bin Ishak bin Sabah bin Imran bin Ismail bin Muhammad bin Al-Asy’ats bin Qais Al-Kindi. Ia berasal dari sebuah keluarga pejabat. Keluarganya berasal dari suku Kindah — salah satu suku Arab yang besar di Yaman — sebelum Islam datang. Nenek moyangnya kemudian hijrah ke Kufah.

Ayahnya bernama Ibnu As-Sabah. Sang ayah pernah menduduki jabatan Gubernur Kufah pada era kepemimpinan Al-Mahdi (775-785) dan Harun Arrasyid (786-809). Kakeknya Asy’ats bin Qais kakeknya AL-Kindi dikenal sebagah salah seorang sahabat Nabi Muhammad SAW. Bila ditelusuri nasabnya, Al-Kindi merupakan keturunan Ya’rib bin Qathan, raja di wilayah Qindah.
Pendidikan dasar ditempuh Al-Kindi di tanah kelahirannya. Kemudian, dia melanjutkan dan menamatkan pendidikan di Baghdad. Sejak belia, dia sudah dikenal berotak encer. Tiga bahasa penting dikuasainya, yakni Yunani, Suryani, dan Arab. Sebuah kelebihan yang jarang dimiliki orang pada era itu.

Al-Kindi hidup di era kejayaan Islam Baghdad di bawah kekuasaan Dinasti Abbasiyah. Tak kurang dari lima periode khalifah dilaluinya yakni, Al-Amin (809-813), Al-Ma’mun (813-833), Al-Mu’tasim, Al-Wasiq (842-847) dan Mutawakil (847-861). Kepandaian dan kemampuannya dalam menguasai berbagai ilmu, termasuk kedokteran, membuatnya diangkat menjadi guru dan tabib kerajaan.

Khalifah juga mempercayainya untuk berkiprah di Baitulhikmah (House of Wisdom) yang kala itu gencar menerjemahkan buku-buku ilmu pengetahuan dari berbagai bahasa, seperti Yunani. Ketika Khalifah Al-Ma’mun tutup usia dan digantikan puteranya, Al-Mu’tasim, posisi Al-Kindi semakin diperhitungkan dan mendapatkan peran yang besar. Dia secara khusus diangkat menjadi guru bagi puteranya.

Al-Kindi mampu menghidupkan paham Muktazilah. Berkat peran Al-Kindi pula, paham yang mengutamakan rasionalitas itu ditetapkan sebagai paham resmi kerajaan. Menurut Al-Nadhim, selama berkutat dan bergelut dengan ilmu pengetahuan di Baitulhikmah, Al-Kindi telah melahirkan 260 karya. Di antara sederet buah pikirnya dituangkan dalam risalah-risalah pendek yang tak lagi ditemukan. Karya-karya yang dihasilkannya menunjukan bahwa Al-Kindi adalah seorang yang berilmu pengetahuan yang luas dan dalam.

Ratusan karyanya itu dipilah ke berbagai bidang, seperti filsafat, logika, ilmu hitung, musik, astronomi, geometri, medis, astrologi, dialektika, psikologi, politik dan meteorologi. Bukunya yang paling banyak adalah geometri sebanyak 32 judul. Filsafat dan kedokteran masing-masing mencapai 22 judul. Logika sebanyak sembilan judul dan fisika 12 judul.

Buah pikir yang dihasilkannya begitu berpengaruh terhadap perkembangan peradaban Barat pada abad pertengahan. Karya-karyanya diterjemahkan ke dalam bahasa Latin dan bahasa Eropa. Buku-buku itu tetap digunakan selama beberapa abad setelah ia meninggal dunia.
Al-Kindi dikenal sebagai filosof Muslim pertama, karena dialah orang Islam pertama yang mendalami ilmu-ilmu filsafat. Hingga abad ke-7 M, filsafat masih didominasi orang Kristen Suriah. Al-Kindi tak sekedar menerjemahkan karya-karya filsafat Yunani, namun dia juga menyimpulkan karya-karya filsafat Helenisme. Salah satu kontribusinya yang besar adalah menyelaraskan filsafat dan agama.

Setelah era Khalifah AL-Mu’tasim berakhir dan tampuk kepemimpin beralih ke Al-watiq dan Al-Mutawakkil, peran Al-Kindi semakin dipersempit. Namun, tulisan kaligrafinya yang menawan sempat membuat Khalifah kepincut. Khalifah AL-Mutawakkil kemudian mendapuknya sebagai ahli kaligrafi istana. Namun, itu tak berlangsung lama.

Ketika Khalifah Al-Mutawakkil tak lagi menggunakan paham Muktazilah sebagai aliran pemikiran resmi kerajaan, Al-Kindi tersingkir. Ia dipecat dari berbagai jabatan yang sempat diembannya. Jabatannya sebagai guru istana pun diambil alih ilmuwan lain yang tak sepopuler Al-Kindi. Friksi pun sempat terjadi, perpustakaan pribadinya sempat diambil alih putera-putera Musa. Namun akhirnya Al-Kindiyah – perpustakaan pribadi itu – dikembalikan lagi.

Sebagai penggagas filsafat murni dalam dunia Islam, Al-Kindi memandang filasafat sebagai ilmu pengetahuan yang mulia. Sebab, melalui filsafat-lah, manusia bisa belajar mengenai sebab dan realitas Ilahi yang pertama da merupakan sebab dari semua realitas lainnya.
Baginya, filsafat adalah ilmu dari segala ilmu dan kearifan dari segala kearifan. Filsafat, dalam pandangan Al-Kindi bertujuan untuk memperkuat agama dan merupakan bagian dari kebudayaan Islam.

Salah seorang penulis buku tentang studi Islam, Henry Corbin, menggambarkan akhir hayat dari sang filosof Islam. Menurut Corbin, pada tahun 873, Al-Kindi tutup usia dalam kesendirian dan kesepian. Saat itu, Baghdad tengah dikuasai rezim Al-Mu’tamid. Begitu dia meninggal, buku- buku filsafat yang dihasilkannya banyak yang hilang.

Sejarawan Felix Klein-Franke menduga lenyapnya sejumlah karya filsafat Al-Kindi akibat dimusnahkan rezim Al-Mutawakkil yang tak senang dengan paham Muktazilah. Selain itu, papar Klein-Franke, bisa juga lenyapnya karya-karya AL-Kindi akibat ulah serangan bangsa Mongol di bawah pimpinan Hulagu Khan yang membumihanguskan kota Baghdad dan Baitulhikmah.

Hingga kini, Al-Kindi tetap dikenang sebagai ilmuwan Islam yang banyak berjasa bagi ilmu pengetahuan dan peradaban manusia.

Menurut Yakut al-Himawi, al-Kindi wafat setelah berusia 80 tahun atau lebih sedikit. Berdasarkan penelitian dari Mustahfa Abd al-Raziq (mantan rektor Al-Azhar) dalam bukunya: Failasuf Arab wa al-Muallim Tsani, al-Kindi wafat sekitar tahun 252 H/866 M.

Sekilas tentang kata-kata bijaknya: "Seyogiyanya kita tidak merasa malu untuk menerima kebenaran dan mengambilnya tanpa peduli dari sumbermana datangnya; bahkan kalaupun kebenaran itu datang dari bangsa-bangsa Asing. Sebab  bagi para pencari kebenaran, tidak ada nilai yang lebih tinggi dari kebenaran itu sendiri. Kebenaran tidak pernah menghindar dari orang yang menerimanya; kebenaran tidak pernah merendahkan orang yang menerima kebenaran, sebaliknya selalu membuatnya mulia". (http://princesmandachibiy.blogspot.com)



sumber:
http://forum.kompas.com
http://saviraartameviasaharani.blogspot.com
http://anisuryani.weebly.com
http://isidunia.blogspot.com
http://serunaihati.blogspot.com
http://kumpulanmakalahkuliah.blogspot.com
http://makalahmeza.blogspot.com




No comments:

Post a Comment